Sedang Jatuh Cinta (Lagi) - Part 6 Kepergok

Terkadang aku dan aa yang tidak bisa disebutkan namanya makan siang bersama di jam istirahat kantor. Disuatu hari, aku ingat sekali, hari itu adalah hari Jumat jam sebelum Sholat Jumat. Aa yang tidak bisa disebutkan namanya chat kemudian mengajak makan dan aku tidak menolak. Toh ini aku anggap sebagai quality time kami berdua yang tidak boleh aku lewatkan. Hahaha.

"makan yok", kata dia.
"Yuk. Dimana?".
"Yang deket aja. Di warung makan Barokah. Ketemu disana aja ya."
"iya", jawabku singkat.

Warung makan Barokah merupakan salah satu tempat makan terdekat dengan kantor kami, dan salah satu tempat yang sering kami kunjungi untuk makan siang.

Kembali lagi kecerita tadi, aa yang tidak bisa disebutkan namanya tiba disana duluan. Karena dia keluar duluan dan dia mengendarai motornya sedangkan aku keluar belakangan dan jalan kaki. Dan setibanya disana warungnya tutup.

"Terus mau makan dimana teh?", tanya dia.
"Disekitar stadion aja yuk! Banyak pilihan disana.", saranku.
Diapun mengiyakan saranku dan memberi tumpangan kepadaku ketempat yang dimaksud. Tempat tersebut agak jauh jika dijangkau hanya dengan kaki.

Kemudian setelah tiba, kami memesan makanan terus makan dan berbincang tentang apa saja yang terlintas dikepala sambil menikmati makanan masing-masing. Setelah selesai makan, kami kembali kekantor. Aku kembali menumpang. 


Tak disangka-sangka, ketika motor kami melaju, motor dari arah belakang memberikan klakson "tet, tet, tet". Kelakson tiga kali berturut-turut.  Ternyata itu ibu Tuti. Ibu Tuti adalah teman kantor kami yang satu bidang dengan aa yang tidak bisa disebutkan namanya. Si ibu dengan spontan menyoraki kami, "adeuh abis dari mana?" katanya menggoda sambil menyalip berlalu pergi. (adeuh = aduh, ciye, dll). Mukaku serontak memerah karena malu sambil tersenyum-senyum kecil.

Begitu tiba di gang dekat kantor, aku turun disitu, tidak persis di depan kantor. Dan aa yang tidak bisa disebutkan namanya pergi meninggalkanku. Aku hanya memandangi punggungnya yang semakin menjauh. Ini dilakukan supaya kondisi kantor kondusif.

Tapi kondisi kantor tetap tidak kondusif. Ibu Tuti yang lucu dan periang langsung mengumbar apa yang dia temukan tadi. Akhirnya semua teman kantor yang sebidang dengan aa yang tidak bisa disebutkan namanya tahu. Kemudian aku dan si aa terus digoda oleh mereka. Jujur aku malu, tapi aku juga tak mengerti mengapa aku tersenyum kecil. Apa aku bahagia?

Kalau perasaan dia seperti apa, aku juga tidak tahu. Yang jelas, aku menemukan senyumku, senyum dia, dan senyum orang-orang kantor yang mulai sibuk menjodoh-jodohkan kami. Aku sih tidak berkeberatan dijodoh-jodohkan, kan aku sudah jatuh cinta duluan. hehehe. Kalau kalian penasaran dengan perasaan si aa yang tidak bisa disebutkan namanya, tanya langsung padanya. Aku juga penasaran, tapi aku enggan bertanya.

-Dila Nur-

Komentar

Postingan populer dari blog ini

[Perjalanan Menuju Pelaminan] Bagian 1

"8 To Be Great" by Richard St. John #Part : 1