Sedang Jatuh Cinta (Lagi) - Part 10 Mengungkapkan Rasa (END)

Setelah aku tertangkap basah, pikiranku agak sedikit kalut, aku bahkan berpikir untuk mengakhiri saja perasan ini.
"baiklah, akan aku anggap aku telah ditolak olehnya bahkan sebelum aku mengutarakan rasaku sebenarnya dan secara langsung. Biar apa? Biar aku tak berharap. Karena mengharap itu berat. Aku tak ingin menanggung berat dan perihnya perasaan", curhatku galau pada seorang sahabat.



Dan kau tahu apa balas sahabatku? "aku lebih memilih mengutarakannya untuk mengakhiri", katanya sambil nyengir.

Setelah aku pertimbangkan, akhirnya aku akan mengakui saja perasaanku. Karena aku sudah kecemplung dalam kolam dan sekarang terlanjur basah, yasudah aku lanjutkan berenang saja. Itu perumpamaannya.

Setelah malam tertangkap basah itu, keesokan harinya aku mengungkapkan rasa kepadanya. Secara terang-terangan namun  secara tidak langsung. Mana mungkin aku berani soalnya. Hehehe. Agak bingung ya? 

Harga diriku jatuh jika aku langsung bicara padanya, entah bicara langsung atau bicara lewat telpon, atau bicara lewat chat. Karena bagi perempuan harga diri adalah segalanya.

Jadi aku mengungkapkan perasaanku lewat story WA yang hanya dia saja yang bisa membacanya. Sangat terang-terangan tapi tidak langsung. Entahlah dia peka atau tidak. Yang jelas aku mau mengungkapkan perasaanku. Agar perasaanku lebih tenang. Dan inilah pertama kalinya dalam hidupku aku mengungkapkan perasaan kepada laki-laki duluan. Pertama kali!!

Aku bilang di story WAku, "Baiklah, akan aku buat sederhana. Ya, aku suka kamu, dan itu urusanku. Bagaimana perasaanmu dan reaksimu? Itu urusanmu."

Kata-kata itu, aku akui sangat dipengaruhi oleh novel Dilan. Hehe. Memang ketika itu aku sedang membaca novel Dilan. Kata-kata Dilan memang sedang sesuai dengan kondisiku. Aku suka dia, dan perasaan dia terhadapku itu terserah dia. Karena cinta memang tidak bisa dipaksakan.

Lalu aku lanjutkan di post selanjutnya. Di post tersebut aku menerka-nerka pemikiran dia jika dia membaca pernyataanku. Karena mungkin akan timbul banyak sekali pertanyaan dibenak dia. Lagi-lagi kalau dia peka ya. Aku membuat post tersebut seolah-olah aku dan dia sedang berbicara langsung satu sama lain. 
Mungkin timbul pertanyaan dalam benakmu, "Kenapa aku? entahlah", jawabku singkat.
lanjutku, "yang lebih ganteng ada, yang lebih baik ada, yang lebih pintar ada. tapi entahlah kenapa kamu."

Dilanjutkan,
"sejak kapan?", tanyamu lanjut
"aku tidak tau persisnya", jawabku lagi-lagi singkat.

Dilanjutkan lagi, 
"aku hanya ingin meluapkan perasaanku, tak lebih. Semua tidak akan berubah. Aku ya aku. Kamu ya kamu. Tidak lantas menjadi kita. Lagipula aku belum cukup percaya diri berada disamping kamu. Jika berkenan tunggu aku untuk memantaskan diri.", jelasku lebar.
Lalu, "Hal ini sudah biasa bagiku. Aku tidak akan berlama lama dalam kegalauan. Selamat tinggal 'rasa'. Jika bertakdir, akan berjumpa lagi. Jika tidak bertakdir, aku yakin kamu bahagia dan aku akan bahagia juga."
Dan itulah ungkapan perasaanku. Dia membaca semuanya sesaat setelah aku post pernyataan itu. Aku tidak tahu, sekali lagi aku bertanya-tanya, "apakah dia peka tulisan itu untuknya atau tidak?". Yasudahlah, aku tak peduli.

Tapi aku merasa ada sedikit perubahan dari sikapnya. Seolah-olah gera-geriknya agak bingung dan canggung di kantor. Tak masalah buatku. Mungkin dia kaget dan tidak tahu harus apa. Hahaha. Artinya dia peka kan? Itulah akhir dari ungkapan rasaku. Aku belum siap menikah, jadi memang tak masalah buatku kami sendiri-sendiri. Dan memang tidak ada niatan sama sekali mengungkapkan rasa untuk memulai menjalin hubungan yang spesial. Aku hanya menyukainya, jika nanti kita bersama alhamdulillah, jika tidak bersama yasudah tidak apa-apa. Semoga aku berjodoh dengan orang yang baik. Dan semoga dia juga berjodoh dengan orang yang baik.

-Dila Nur- 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

[Perjalanan Menuju Pelaminan] Bagian 1

"8 To Be Great" by Richard St. John #Part : 1