[Perjalanan Menuju Pelaminan] Bagian 1

Ketika itu usiaku hampir 24 tahun, dimana dalam budaya sekitarku usia tersebut sudah cukup matang untuk memulai biduk rumah tangga. Mamah pun pernah mengatakan, "pokoknya jangan lebih umur 25 tahun ya untuk menikah".

Rasa khawatir sangat jelas tersirat dari mimik wajahnya. Anak gadisnya,
lulus kuliah sudah
mendapatkan pekerjaan yang baik juga sudah.
Tinggal menunggu apa lagi kan untuk menikah? Rasa khawatir itu sangat nyata baginya karena aku belum pernah membawa laki-laki kerumah. Jangankan membawa laki-laki untuk dikenalkan, laki-laki yang dekatpun nampaknya tidak ada.

Sebenarnya rasa khawatir itupun menyelimuti diriku. Rasa khawatir itu menjelma, membesar membesar dan terus membesar tatkala satu persatu teman seperjuangan bersanding kepelaminan. Aku kapan ya? Kebingungan sekaligus hampir putus asa melandaku ketika itu, dimanakah bisa aku temukan sang kekasih hati? dari sekian teman-teman seholah, teman-teman kuliah, teman-teman kerja, bahkan teman-teman say hai tidak ada satupun yang menyangkut dihati. Dimanakah bisa kutemukan sang kekasih hati?

Meminta kepada Sang Khaliq untuk segera dipertemukan dengan jodoh impian menjadi daftar doa baru untukku. Setiap berdoa, aku memohon kepadaNya untuk segera bertemu dengan laki-laki beragama nan berakhlak baik. Laki-laki yang mampu membimbingku dan membawaku kesyurgaNya. Laki-laki penyayang seluas samudera.

Selain berdoa, ada banyak ikhtiar yang aku lakukan. Biarlah orang mau berkata apa. Tidak ada salahnya kan aku proaktif mencari jodoh sendiri, asal tidak agresif terhadap laki-laki.

Ikhtiar selanjutnya yang aku lakukan adalah meminta orangtua untuk mencarikan jodoh yang baik untukku. Dalam situasi yang sangat santai dan nada riang aku mengatakan, "mah, pak, pokoknya aku engga akan cari pacar. Mamah, bapak aja deh yang cariin". Dan setelah berlangsung cukup lama, tak kunjung datang tanda tanda orangtuaku merespon permintaanku. Nampaknya permintaan jodoh dari putrinya hal yang cukup sulit bagi mereka.

Tak sampai disitu, sambil menunggu orangtua membawakan calon mantu mereka, yang mana adalah calon suami untukku, dengan mengabaikan rasa malu yang teramat, aku meminta kepada beberapa sahabat yang terkenal memiliki banyak teman, untuk mengenalkan seorang laki-laki. "Pokoknya aku engga cari laki-laki yang macam-macam. Cukup dia baik hati", pintaku.
"Kamu inget engga jaman kita SMA, aku suka curhat tentang kak Irfan", respon temanku.
"Iya, aku ingat", sambil mengingat-ingat masa SMA 7 tahun silam.
"Dulu kan aku suka dia. Dia orang yang baik kok, cerdas dan berasal dari keluarga baik-baik. Tapi sayangnya aku tidak berjodoh dengan dia. Aku sebentar lagi akan menikah dengan kekasihku saat ini. Kamu mau engga aku kenalkan kamu dengan dia? Daripada orang sebaik dia dengan orang lain, mending sama kamu aja".
Aneh memang, dikenalkan dan dicomblangkan oleh sahabat dengan seseorang yang pernah dia kagumi.
Singkat cerita, aku dengan Kak Irfan berkenalan. Saling berkomunikasi dan dua kali bertemu. Karakter Kak Irfan yang diceritakan oleh sahabatku itu sangat baik sekali, sehingga saat berkomunikasi dengan dia aku sangat berhati-hati. Entah, otak ini selalu berfikir untuk hanya membicarakan hal-hal baik dan hal-hal yang dia sukai, dan mengabaikan kesukaan diri sendiri. Aku merasa tidak senatural biasanya, merasa bukan diriku. Mungkin aku yang terlalu berusaha. Dan akhirnya aku merasa lelah. Lambat laun, komunikasi semakin berkurang, semakin jarang dan sama sekali tidak berkomunikasi. Ya, percomblangan ini gagal. Dia bukan jodohku ternyata.

Setelah kegagalan itu, aku masih pantang menyerah mencari sang kekasih hati. Dan pastinya tanpa rasa bosan doa untuk segera dipertemukan dengan jodohku, terus dan terus aku langitkan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

"8 To Be Great" by Richard St. John #Part : 1